Jumat, 21 Maret 2008
Bangunkan Aku, Teman...
Rasa kantukku seketika lenyap, berganti rasa khawatir. Gerangan apa tengah malam buta, Bu Umi, teman baikku menghubungi? Kalau bukan karena hal mendesak tentu bisa dilakukan besok pagi ketika matahari telah tinggi... Dan tak perlu mengagetkan mimpi indahku.
Jangan-jangan, Hana atau Husna sakit, atau... Hampir saja aku menekan tuts ponsel, memanggil balik nomor Bu Umi untuk memastikan apa yang terjadi. Namun tiba-tiba akutersentak oleh sesuatu yang membuatku geli dan malu pada diri sendiri.
Astaghfirullah... Malam ini memang aku dan Bu Umi sudah janjian, siapa yang bangun duluan, akan membangunkan yang lain untuk qiyamullail... Ternyata dia yang duluan.
"Kita coba saja yuk saling membangunkan untuk tahajjud, supaya semangat kita seperti dulu lagi" demikian usulnya pada suatu perbincangan tempo hari, disusul dengan anggukan persetujuanku.
Saat itu memang kami sedang berdiskusi tentang kondisi para ibu yang terasa sangat menurun kualitas ibadah, ukhuwah maupun aktivitas da'wahnya karena disibukkan dengan rutinitas rumah tangga, yang terkadang dijadikan legalisasi alias kambing hitam.
Beberapa teman kami terlihat hambar dalam setiap pertemuan. Datang, duduk, mendengarkan materi, terus pulang. Kedekatan hati terasa begitu mahal. Keterbukaan dan keakraban pun kami rasakan kurang. Bahkan ada juga yang terkesan mencari-cari alasan untuk dapat sekadar hadir dalam majelis yang telah kami sepakati. Barangkali banyak faktor yang menyebabkan kelesuan ini.
"Setidaknya kita mencoba untuk menunjukkan kepedulian, melalui saling mengingatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada tiap-tiap tengah malam yang hening.." demikian kesepakatan yang kami putuskan.
Setelah menarik nafas panjang, segera aku bangkit, dan sebelum mengambil air wudhu, beberapa nama di ponselku sempat aku kirim misscall, dengan harapan mereka juga mengingat ikhtiar ini.
Dan memang terasa lain qiyamullail kali ini. Ada keharuan dalam dada, ketika terbayang wajah-wajah teman dan sahabat. Semoga mereka senantiasa mendapat rahmat, ampunandan hidayah-Nya; serta mendapat kekuatan luar biasa untuk berjuang menegakkan kebenaran. Amin.
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, bahwa hati-hati ini telah terkumpul untuk mencintai-Mu, untuk taat kepada-Mu, bersatu untuk dakwah di jalan-Mu, berjanji untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalannya, penuhilah dengan nur cahaya-Mu yang tidak akan pernah pudar... "
Rabu, 19 Maret 2008
Rezeki Ga Kemana
Siang itu jam yang ada di handphone jadul saya sedang menunjukan pukul setengah dua siang. Masih panas. Kebetulan saat itu saya sedang berada di dalam angkot. Duduk di depan sopir angkot. Angkot yang akan mengantari saya ke tempat saya bekerja. Kebetulan hari itu saya bekerja lagi mendapatkan tugas giliran masuk siang.
Hari itu angkot yang saya tumpangi lagi kosong—tak ada penumpang. Hanya saya saja berdua, bersama sopir angkot sebagai pengermudi angkot itu. Memang saat pertama saya menaiki angkot itu sudah tidak ada penumpang—hanya saya dan supir angkot. Sudah kosong. Namun ketika saya menaiki angkot itu betapa terkejutnya sopir yang mengemudikan angkot itu seperti orang kalap. Tancap gas kencang sekali. Memburu setoran. Saya yang saat itu duduk di depan sopir angkot itu beberapa kali mengucap tahmid. Agar tidak terjadi apa-apa ketika di jalan nanti. Selamat. Kalau pun tidak saya hanya pasrah. Karena Dia-lah yang menentukan takdir.
“Bang, nyupirnya santai aja. Nggak usah ngebut, ” kata saya ramah membuka topik pembicaraan kepada sopir yang ada di hadapan saya seperti orang kalap itu. Tak mementingkan keselamtan penumpangnya.
“Maaf, Mas saya lagi mau kejar setoran nih. Udah setoran nggak ada, sepi lagi, ” jawabnya sambil terus menstater kemudi tanpa memperdulikan apa yang saya katakan kepada apalagi say sebagi penumpangnya. Sopir itu acuh!
Saya diam sejenak. Tak dapat meneruskan bahan pembicaraan kepada sopir itu. Tapi karena ini untuk keselamatan saya dan dirinya itu, saya pun akhirnya angkat bicara lagi. Memberitahukan bahwa dalam keadaan sepeti itu tak baik. Merugikan diri sendiri apalagi saya, sebagai penumpangnya. Tidak memperhatikan penumpang.
“Rezeki nggak ke mana Bang. Mungkin Insya Allah nanti kali ketika abang mengemudinya santai bisa dapat penumpang lebih banyak.”
Alhamdulliah, ketika saya berkata seperti itu sopir yang mengemudikan angkot yang saya tumpangi berjalan semestinya. Normal. Perlahan-lahan tapi pasti. Tidak seperti tadi. Mungkin supir itu mengerti apa yang maksudkan tadi. Pikir saya saat itu. Saya harap itui benar adanya.. Karena ketika saya berkata sepeti itu saya melihat wajah yang tadinya tertutup awan hitam kini berubah menjadi selaksa bianglala. Teduh dan merunduk. Tak seperti tadi. Seperti orang kalap. Tak terkendali. Saya yang melihatnya seperti itu terus mengelus dada sambil bergumam, ”alhamdulilah akhirnya saya bisa duduk tenang dan supir yang ada dihadapan saya bisa menyupir dengan hati tenang pula. Rileks. Tak seperti orang mengejar setoran. Tancap gas keras sekali. Tanpa memperdulikan penumpang.”
“Ya, Mas hari ini kok sepi banget, ya?” ujar lagi menceritakan jerih payahnya sejak pagi tak mendapati penumpang. Tak sesuai keinginannya. Mendapatkan penumpang di angkotnya itu.
“Sabar aja Bang rezeki nggak ke mana. Nggak usah dikejar. Nanti juga datang kok jika waktunya. Asal abang mau sabar aja. Saya juga begitu kok. Waktu saya tidak dapat pekerjaan bawaan saya selalu labil sama sepert abang.” Akhirnya saya dan sopir iti bebagi cerita. Menyeritakan masing-masing persoalan yang dihadapi bersama-sama. Dan tujuan dari itu sama. Yakni, rezeki yang Allah harapkan bisa sesuai dengan keinginan umatNya. Lancar dan tanpa ada kendala serta tanpa diuji lebh dulu.
Akhirnya, usai saya bercerita seperti itu tak terasa tujuan yang tuju sampai. Dan waktunya saya turun dari angkot yang sudah membuat saya was-was serta mendapatkan pembelajaran hidup khususnya saya. Hikmah dari apa yang saya dapati selama ada di dalam angkot yang saya tumpangi sejak saya pertama kali naik serta sampai di tujuan. Dan terlebih saya juga mendapatkan suatu ilmu yang sampai saat ini saya masih belajar. Yakni, sabar dan qona’ah. Menerima apa adanya atas kekusaaNya (rezeki). Terima adanya. Dan juga bukan itu saja saya harap sopir angkot itu bisa mengambil hikmah halnya saya yang juga yang sudah mengalami bersama-sama dengannya.
Satu hal yang sangat membuat saya miris adalah pemandangan seperti itu bagi saya terus saja berkelajutan tiap hari. Baik saat saya dapati tiap kali pergi maupun pulang kerja. Ada saja hikmah yang saya dapati dan sealu mengelus dada.
Do'a Sang Malaikat
Pelataran putih serta hamparan karpet beludru yang menutupi hampir seluruh bagian masjid masih terlihat agak lengang dari biasanya. Adzan dzuhur memang masih sekitar empat puluh lima menit lagi baru akan berkumandang. Ada beberapa orang yang sudah duduk bersila di beberapa bagian teras masjid. Aku mengelilingkan pandangku saat itu.
Sambil menuntun langkah keponakanku, aku melangkah memasuki ruangan utama masjid itu. Alhamdulillah, masih ada waktu untuk kami tunaikan tahiyatul masjid. Hembusan angin perlahan menelusup ke pundak mengiringi takbir. Sejuknya suasana memang selalu hadir dalam setiap keberadaan di bumi Alloh ini. Kapanpun, di manapun, ia selalu tampil dengan segala keteduhan serta kenyamanan bagi siapapun para hamba-Nya yang mengharapkan ridho dari-Nya.
Seusai salam, aku tersenyum melihat tingkah keponakanku yang sepertinya memang masih sulit mengikuti gerakan sholat kami untuk lebih sempurna. Dia lalu segera mengubah cara duduknya dan kemudian bersila di sampingku.
Sekitar lima menit suasana masih hening. Matahari perlahan merangkak ke atas pusat dunia. Menyemburatkan sinarnya hingga seakan menusuk-nusuk di atas kepala. Beberapa orang masih berdatangan saat itu. Hingga tak lama kemudian, keponakanku berbisik minta uang. Jujur saat itu aku agak heran.
"Buat apa?", tanyaku
Ia hanya tersenyum, lalu kemudian menunjuk sebuah kotak yang ada di sudut masjid itu, yang biasanya pada saatnya nanti akan dipindah bergilir menyusuri barisan-barisan shaf para jamaah.
"Oooo....", aku mengerti sambil kemudian tersenyum kearahnya.
Rupanya hari ini dia lupa meminta uang ke ibunya untuk mengisi kotak amal masjid itu. Biasanya memang setiap dia pergi ke masjid, dia dibekali uang untuk dia masukkan di kotak amal itu.
Aku tersenyum dalam hati, semestinya memang aku malu. Bukankah shodaqoh itu akan menolong kita dari murka Alloh dan menghindarkan diri dari kematian su'ul khotimah? Tapi, mengapa selalu lupa untuk membiasakan diri ini menjalankan satu tuntunan syariat itu?
"Hhhhhhhhhh..."
Aku membuang nafas panjang. Ada rasa berat dan menyesal mengiringinya. Ada ketakutan yang hebat meliputi daripadanya.
Bayangku seketika menjelma, teringat akan risalah ia sang Rasul Alloh, ketika menyampaikan bahwa setiap pagi akan datang dua malaikat yang menyeru kepada manusia dan berdo'a kepada Alloh SWT.
Mereka berseru untuk mengingatkan kita agar bersedekahlah setiap pagi dari harta kita meskipun sedikit daripada lupa.
"Tiada matahari masih menyinari bumi melainkan ada dua malaikat. Masing-masing menyeru manusia dan berdoa, ‘ Wahai manusia, bergegaslah menuju Tuhanmu sedikitnya harta tapi mencukupi lebih baik daripada banyak tapi kau lupa..."
Kemudian yang lainnya berdo'a, ..". Wahai Allah, berikan ganti harta kepada mereka yang bederma dan bagi si kikir segera binasakan saja hartanya." (Dikutip dari HR Abu Darda)
Ya Rabb...
Aku menundukkan kepalaku. Andaikan tak ada maha rahman dan rahim-Mu, tentunya sudah Engkau perkenankan do'a dari para malaikat-Mu. Menggantikan harta pada mereka yang senantiasa berderma dan membinasakannya harta-harta yang telah sebelumnya Engkau titipkan pada kami yang senantiasa lupa berbagi kepada sesama. Namun apa yang terjadi, Allah ternyata lebih banyak menggantikan bahkan hingga melipat gandakan harta kita ketika kita berbagi kepada sesama. Namun, Ia sebaliknya lebih sering menangguhkan untuk membinasakan seluruh harta kita ketika kita lupa bahkan melupakan segalanya.
Naifnya, kita seakan tak pernah merasa dosa, kita seakan tak pernah merasa resah akan semuanya. Bahkan tak pernah ada rasa menyesal dalam hidup kita ketika melewati hari demi hari yang hampa tanpa berusaha untuk meluangkan waktu sejenak, merogoh kantong baju kita, dan meniatkannya untuk hanya mengharap ridha-Nya.
Padahal, andaikan kita mencoba menelusuri kasih sayang Alloh pada hamba-hamba-Nya. Ternyata banyak barokah yang Ia titipkan, yang Ia hadirkan dalam hidup hamba-hamba yang senantiasa berusaha untuk istiqamah menunaikan satu amalan ini. Bukan hanya Ia sang Rasul Alloh saja, bukan hanya mereka para sahabat saja, bukan hanya mereka para alim ulama saja, namun janji ini Alloh pertunjukkan untuk kita semua, yang telah Ia berikan kepercayaan untuk mengarungi hamparan berjuta amalan di dunia ini.